:: BKSAP Sepakat Bentuk Panja MDGs :: Indonesia Pimpin Parlemen Islam Dunia :: Hidayat Nur Wahid Hadiri Sidang APPF ke-8 :: Hidayat Nurwahid Minta Rehabilitasi Nama Gus Dur :: Hidayat: Sekalian Saja Soeharto & Gus Dur Dijadikan Pahlawan Nasional :: Ketua BKSAP Kutuk Keras Bom Bunuh Diri di Irak :: Hidayat Optimis Seluruh Delegasi Akan Setujui Draft Keuangan APA
Taushiyah

IDUL FITHRI, MOMENTUM KOKOHKAN UKHUWAH ISLAMIYAH DAN KEPEDULIAN SOSIAL

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Mulai pagi hari ini kita ummat Islam di Indonesia dan nanti, bersama dengan ummat Islam di seluruh dunia, merasakan kembali besarnya karunia Allah yang tak henti-hentinya diberikan kepada ummat manusia. Dengan semangat takbir dan tahmid kita bersama-sama dan berbondong-bondong melaksanakan sholat Idul Fitri, untuk mengekspresikan ‘ubudiyah dan pengakuan kita akan besarnya karunia Allah serta syukur kita kepada-Nya, pengakuan kita bahwasanya Allah-lah yang Maha Besar dan layak untuk mendapatkan puja dan puji dari hamba-Nya.
Kita mensyukuri itu semua karena jelas kita sangat menyadari, apalagi masih terjadinya beragam musibah di tanah air tercinta ini seperti gempa bumi di kawasan Sumatera dan kekhawatiran akan meletusnya gunung Merapi dan gunung Kelud, dan belum pulih totalnya kondisi masyarakat akibat dari gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tahun yang lalu, belum lagi dengan masih tingginya angka kemiskinan dan korupsi. Kita sangat menyadari tentang pentingnya keberlanjutan dari karunia Allah itu bahkan pelipatgandaannya, dan itu akan terjadi bila kita sungguh-sungguh bersyukur kepada karunia-Nya dan tidak malah mengkufurinya. Itulah yang Allah tegaskan dalam Al-Quran :

“ Bila kalian bersyukur maka pastilah Allah akan melipat gandakan karunia-Nya, tapi bila kalian kufur maka ketahuilah bahwa azab Allah sangatlah pedih”.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hari raya Idul Fitri kali ini tampil dalam momentum sangat strategis dan penting, hari raya ummat Islam ini yang pastilah disambut dengan suka cita sebagai mana disunnahkan oleh Rasullullah SAW, ia hadir ketika ummat banyak yang belum dapat meningkatkan dayabeli, terkena PHK akibat banyak perusahaan yang gulung tikar, terkena dampak buruk akibat kenaikan banyak kebutuhan pokok dan belum selesainya penanganan yang baik akibat dari Lumpur Lapindo.

Berbagai persoalan dan krisis yang belum tuntas ini dapat mengikis rasa percaya masyarakat kepada sesame dan pimpinan mereka baik pada level RT hingga di level-level di atasnya yang belum kunjung dapat memberikan solusi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Bahkan krisis kepercayaan ini sampai pada wakil-wakil mereka di lembaga Parlemen yang belum mampu menawarkan perubahan kongkrit ke arah yang lebih baik. Hal-hal tersebut bila tidak diantisipasi dan berkelanjutan dikhawatirkan akan mengikis habis ukhuwah Islamiyah, kerukunan antar warga, sikap gotong royong, serta efektifitas penyelengaraan kehidupan bahkan dalam konteks bernegara sekalipun dan bisa menjadi lahan bagi tumbuhsuburnya apatisme, egoisme, komunisme serta perilaku anarki, terorisme, kriminalitas, pelanggaran norma dan hukum.

Kedewasaan masyarakat dalam proses demokrasi yang semarak dan damai diadakan di berbagai wilayah Indonesia seperti DKI Jakarta beberapa bulan lalu dapat menjadi modal dasar bagi optimalisasi kedewasaan bersikap dan bertindak politis, baik oleh masyarakat atau para elit politiknya. Artinya kedewasaan ini dapat terus dikembangkan guna meraih tingkat Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam), Ukhuwwah Wathaniyyah (persaudaraan kewarganegaraan) dan Ukhuwwah Basyariyyah (persaudaraan kemanusiaan) yang paripurna demi hadirnya maslahat bagi semua. Karena pembangunan masa depan negeri ini sangat terkait erat dengan sejauh mana kita dapat menghadirkan persaudaraan-persaudaraan di atas. Yaitu persaudaraan yang penuh diliputi oleh nilai-nilai empati, simpati, solidaritas, loyalitas, cinta kasih dan sayang, baik antar lapisan masyarakat bawah dengan para aparat pemerintah secara timbal balik, antar para elit dan antar sesama masyarakat lapis bawah.

Nilai-nilai luhur tersebut sesungguhnya hadir dan kita jalani secara bersama-sama di bulan suci Ramadhan yang baru saja kita lewati. Banyak nilai-nilai luhur dan pembelajaran spiritual yang dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata paska bulan ini. Karena bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bulan kebajikan dan bulan kedermawanan. Setiap Muslim yang menjalankan puasa ditraining agar berkompetisi melakukan kebajikan baik secara vertical maupun horizontal.

Dari melaksanakan berbagai bentuk ibadah dari tilawah-tadabbur Al-Qur’an, Qiyamu al-Lail (Tarawih), Tahajjud, Shalat Hajat dan lain-lain hingga bersilaturrahim dengan para sanak famili dan keluarga, berbuat baik kepada orang-orang fakir-miskin, bermuamalah dengan ihsan, beretika Islami dari sikap jujur, amamah, menahan amarah; menjauhi ‘omong-kosong’apalagi fitnah, tidak membuang-buang waktu percuma, menjauhi adu domba, meninggalkan ghibah (membicarakan keburukan orang lain) dan lain sebagainya.

Sikap fastaqu al-khairat masing-masing Muslim meraih limpahan pahala dan kebajikan di bulan suci tersebut hadir dengan penuh kesadaran akan posisi dan kedudukan bulan Ramadhan tersebut. Bulan yang memang diistimewakan dari sisa bulan yang lain. Ramadhan didesain oleh Allah subhanahu wata’ala agar dapat mentraining Muslim untuk dapat menginternalisasi tradisi ibadah dan amal shaleh yang ihsan sebagai bekal kehidupan bersama, bermasyarakat dan bernegara di bulan-bulan yang berikutnya.

Oleh karenanya tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan kehadiran ketaatan Ilahi dan kebajikan basyariyyah secara horizontal di bulan-bulan setelah Ramadhan. Kelanjutan kebajikan-kebajikan tersebut dapat menjadi indicator kesuksesan para hamba Allah mengarungi samudera bulan Ramadhan yang baru usai.

Bulan Ramadhan menggembleng kita agar membekali diri dengan energi terbarukan berupa ketaatan dan kebeningan jiwa guna memikul tugas dan beban amar ma’ruf nahi munkar, beramal shaleh dan mereformasi kehidupan paska Ramadhan.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dengan berbekal nilai-nilai Ilahi di bulan Ramadhan tersebut, hari raya Idul Fitri kali ini seyogyanya dimaknai dengan semangat memaksimalkan dan menghadirkan solusi serta mengalahkan tantangan-tantangan yang menghadang. Karena pada hari ini kita semua berceria dan bersuka cita, berbusana baik dan bersih, semua dianjurkan untuk hadir menikmati hari kemenangan dan hari Fitri ini mengalahkan berbagai tantangan, membuang beban dan duka cita.

Makna dan nilai hari raya ini sesungguhnya bisa terus disegarkan dengan menginternalisasi makna dan pengalaman positif yang telah dilakukan dan dirasakan secara langsung selama satu bulan Ramadhan lamanya. Dikala itu para shoimin dan shoimat dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, telah dengan suka rela berlapar dan berdahaga sepanjang siang, bahkan merubah hampir total jadwal kegiatan siang dan malam mereka selama satu bulan lamanya. Sekalipun demikian toh mereka tetap dapat rajin beribadah, sholat berjamaah, memakmurkan masjid, tadarus Al-Quran, mengikuti kajian–kajian ke-Islaman, banyak berinfak dan berzakat serta tetap bekerja secara produktif.

Logika sederhana tentunya adalah kalau dengan lapar dahaga itu semua dapat direalisir sebagai upaya untuk terwujudnya taqwa, maka tentunya dan wajar saja bila nilai-nilai itu terinternalisasi dengan benar dalam jiwa setiap Muslim atau Muslimah. Maka sesudah bulan Ramadhan pada 11 bulan berikutnya, ketika mereka kembali pada jadwal kegiatan normal, dan mereka dapat selalu makan dan minum, tentunya mereka bisa melanjutkan capaian selama bulan Ramadhan dalam kegiatan dengan penuh semangat, bergairah dan lebih produktif.

Dengan cara itulah maka risalah puasa yang berhubungan dengan realisasi dan aktualisasi nilai-nilai takwa selalu dapat dihadirkan, dan itu artinya realisasi dari keunggulan kualitas ummat manusia. Allah SWT berfirman : “Wahai seluruh ummat manusia anda semua diciptakan dari laki-laki dan perempuan, serta suku-suku yang beragam agar kalian saling mengenal dan saling berkerja sama, dan sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang taqwanya paling berkualitas”.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Idul Fitri ini seperti tahun-tahun yang lalu menghadirkan gerakan kolosal, mudik lebaran. Suatu prosesi besar yang menegaskan bahwa semangat ummat dan kehendak rakyat untuk saling bersilaturahim, untuk saling berempati, saling bertemu dan menyapa secara langsung, untuk berbagi rindu dan pengalaman hidup, untuk meningkatnya kualitas kehidupan dan saling membantu, tetap terjadi.

Dengan mudik yang berbingkai semangat Idul Fitri itu mereka diharapkan sungguh-sungguh pulang kepada fitrah mereka sebagai ummat beragama Islam, anggota komunitas sosial maupun warga Negara Indonesia. Tentu karenanya mudik tidaklah dalam rangka menularkan virus negative kehidupan kota ke desa-desa. Tetapi mereka akan menyebarkan semangat ukhuwah di atas, hasil kerja keras, serta keagungan peradaban manusia ke seluruh pelosok Indonesia. Dan dalam waktu yang sama, serta dengan nafas yang sama pula, mereka yang pulang kampung itu, dapat menyegarkan diri bukan hanya dengan suasana desa, tetapi bahkan dapat mencontohkan diri dengan keunggulan lokal dan berbagi bentuk ketentraman desa yang diperlukan masyarakat kota Maka tak aneh kalau di Indonesia pun hadirlah suatu tradisi yang sangat positif yaitu mereka melakukan halal bihalal serta silaturahim.

Dalam prosesi ini ada fakta sosial yang tampil : kejujuran untuk saling menyapa secara langsung, ketulusan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf dan keberanian untuk berlapang dada memberikan maaf.
Nilai-nilai positif ini sangat penting dan vital ini sangat diperlukan justru ketika bangsa ini yang mayoritas beragama Islam masih diselimuti dengan beragam problema termasuk keretakan ukhuwah serta hubungan antara warga. Dengan peristiwa mudik tentu diharapkan agar silaturrahim dan halal bihalal itu akan menguatkan kembali saling percaya di antara warga, merekatnya kembali ukhuwah Islamiyah dan berseminya kembali saling peduli diantara mereka.

Begitulah salah satu dari dampak positif bila sunnah Rasulullah SAW dilaksanakan dengan benar. Suatu ketika Rasulullah SAW pernah bersabda : “Barangsiapa yang ingin diperbanyak rizkinya, dipanjangkan kenangan manis untuk dirinya, diberkahi umurnya, hendaklah ia selalu bersilaturahim”.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Sekali lagi halal bihalal yang akan mengiringi peristiwa Idul Fitri ini hendaknya bisa dimaksimalkan dengan sesungguhnya. Peristiwa yang biasa dilaksanakan di kampung-kampung, di kantor-kantor, oleh para pejabat baik di tingat lokal maupun nasional, akan mengadirkan keberanian yang tulus tidak serimonial apalagi lip-service belaka untuk mengakui kekurangan serta memunculkan komitmen untuk memperbaikinya dan bahkan untuk tidak mengulanginya. Dan itulah taubat berjamaah dan nasional.

Hal semacam ini bisa jadi pembangkit semangat baru untuk memperkuat komitmen melaksanakan amanah, mengedepankan kepentingan rakyat memberantas korupsi dan menegakkan hukum. Yang demikian amat sangat diperlukan sebagai salah satu kunci penting untuk menjaga fitrah kita sebagai ummat manusia sekaligus untuk menghadirkan kembali semangat kebersamaan dan gotong royong guna suksesnya rakyat dan para pejabat keluar dari krisis dan berada di taman-taman sorga Allah di muka bumi. Allah SWT memang adalah Dzat yang Maha Kasih dan Sayang, beliau tetap menyemangati ummat untuk selalu memperbaiki diri, sekalipun ummat itu berulang kali berbuat kesalahan. Dan Rasulullah SAW pernah bersabda : “Setiap anak turun nabi Adam AS memang dapat berbuat salah, tetapi yang paling baik di antara anda semua adalah yang selalu siap untuk bertaubat”.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah

Hari raya Idul Fitri kita inipun pastilah juga kita barengi dengan pelaksanaan syariah berzakat, baik Zakat Mal maupun Zakat Fitrah. Kedua jenis ibadah sosial yang sangat penting tapi sayang yang belum bisa dilaksanakan dengan sepenuhnya. Menurut ketua BAZNAS, Prof. DR KH Didin Hafidudin, MSc potensi Zakat Mal yang mestinya terkumpul dari muzakki di Indonesia semestinya adalah setara dengan 19,3 Trilyun rupiah, tetapi dari berbagai lembaga pengumpul Zakat barulah dapat direalisir 300 Milyar rupiah, suatu hal yang sangat ironis di tengah kemiskinan dan penderitaan ummat yang amat perlu dengan santunan zakat, di tengah terus bertambahnya jumlah jemaah haji serta umrah, tetapi kewajiban berzakat belum dapat ditunaikan dengan sewajarnya.

Hal itu terjadi barangkali karena selain faktor eksternal muzakki terkait dengan profesionalitas Lembaga Amil Zakat (LAZ) mungkin juga faktor internal muzakki itu sendiri. Mungkin Muzakki mengira bahwa Zakat hanya membebani dirinya padahal ia telah membayarkan pajak, mungkin ia merasa tidak ada manfaat bagi dirinya bila membayar Zakat itu, padahal Al-Quran dan Assunnah telah menegaskan bahwa justru yang paling pertama mendapatkan manfaat dan berkah dari Zakat adalah para muzakki, sebelum dirasakan oleh para mustahiq. Begitulah penegasan dalam Al-Qur’an : “ Ambilah sebagian dari harta mereka Zakat, yang dengan itu engkau dapat membersihkan mereka dan mensucikan harta mereka serta menumbuh kembangkannya”.

Rasulullah SAW pun bersabda : “Zakat fitrah itu adalah untuk mensucikan para orang yang berpuasa dari beberapa kekurangan selama ia melaksanakan puasa seperti berlaku sia-sia serta ungkapan yang tidak beretika.” Dengan dibayarkan Zakat, dan ditunaikannya salah satu dari rukun Islam yang sangat penting ini maka jelas sekali ia akan memberikan kontribusi yang sangat besar untuk menumbuh suburkan Ukhuwah Islamiyah serta menyemaikan terus empati dan kepedulian diantara sesama. Zakat dengan semangat ini dan dengan jumlah terbayar yang sangat besar itu (19,3 Trilyun rupiah) dan dilakukan dengan keikhlasan dan keihsanan adalah sesuatu yang akan dapat mengokohkan solidaritas dan ukhuwah Islamiyah sesama umat yang mulai teredusir akibat berkelanjutannya problema yang mendera anak bangsa.

Mari kita dukung gerakan Zakat Infaq dan Shadaqah Nasional, sebagai kontribusi dan terobosan penting untuk memastikan bahwa ummat telah kembali pada fitrahnya serta kemampuannya untuk mengatasi masalah dan karenanya tidak mau terus menerus bergelimang dalam dosa dan problema, serta semangat untuk merealisasikan kemenangan yang selalu dimunculkan dalam ungkapan tahniah selamat berhari raya idul fitri Minal Aidin wal Faidzin. Kemenangan dengan landasan semangat fitroh ini adalah kemenangan besar yang menghadirkan tekad kuat agar setiap anak ummat apapun profesinya, apapun jabatannya, apapun sukunya dan dimana pun ia tinggal di bumi Allah ini, dapat bergotong royong menjadikan dirinya sebagai bagian dari solusi dengan memberikan manfaat yang positif bagi kemajuan, kemakmuran serta kesejahteraan kehidupan ummat manusia. Itulah ajaran keutamaan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW ketika ia bersabda “ Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling memberikan manfaat bagi sesama”

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dengan pendekatan ini maka hari raya Idul Fitri kita kali ini adalah momentum besar yang layak untuk dimaknai secara lebih mendalam dan diaktualisasikan secara lebih inovatif dan produktif. Sehingga ia akan menghadirkan harapan bagi ummat karena mereka melihat adanya ketulusan dan kejujuran para pemimpinnya untuk selalu rujuk kepada fitrah serta hadirnya kondisi sosial yang kondusif untuk melanjutkan kehidupan yang bermartabat. Itu juga yang akan memberikan semangat bagi bangsa untuk keluar dari krisis-krisisnya karena mereka tahu, dengan sukses berpuasa, ber-Zakat serta ber-Idul Fitri maka prinsip-prinsip dasar untuk menang, untuk mengalahkan segala penyimpangan serta penyakit bermasyarakat dan bernegara seperti kemiskinan materi maupun nurani, terorisme, korupsi, inefisiensi anggaran, ketidak adilan dalam penegakan hukum dan lain-lainnya selalu dapat dihadirkan dan dimenangkan. Karena pada hakikatnya problema-problema tersebut terjadi akibat dari selain faktor sistem dan penegakan hukum juga terutama oleh faktor internal yang ada pada diri setiap manusia pembuat sistem mapun penegak hukum yaitu masalah moral dan akhlaq bangsa. Ibnu Khaldun pernah menyampaikan bahwa: “Binasanya suatu bangsa adalah manakala bangsa itu tidak lagi punya harapan untuk bangkit, dan hilangnya harapan untuk bangkit itu karena hancurnya moral dan akhlaq bangsa”.

Dan jelas sekali bahwa rangkaian-rangkaian peristiwa selama satu bulan kita berpuasa, sholat berjamaah, tadarus Al-Quran, mendalami pengetahuan beragama kita, banyak melakukan shodaqoh dan ber-Infaq, bahkan ber-Zakat kemudian bersilaturahim mudik dan halal bihalal, itu semua adalah rangkaian gerak dan aktifitas untuk menginternalisasi akhlak dalam diri serta menterjemahkannya dalam karya yang nyata, baik itu dilakukan oleh rakyat apalagi oleh mereka yang mendapat amanah dari rakyat, melalui pembiasaan yang kolosal dilakukan oleh seluruh ummat Islam yang ada di dunia. Dan karenanya bila moral ummat itu telah menjadi bagian dari karakternya maka niscaya sistem dan hukum akan dapat tegak dan berjalan untuk membawa bangsa ini tetap bersemangat dan bermartabat serta secara perlahan menapaki jalan keluar dari krisis-krisisnya.

Itulah salah satu dari warisan fakta sejarah yang diberikan oleh Rasulullah SAW. Beliau adalah pemimpin ummat manusia serta panutan mereka dalam kehidupan justru dengan berakhlak mulia. Beliau berhasil menyemangati ummat dan berhasil membawa mereka keluar dari krisis ke-Jahiliyaan yang penuh dengan kebodohan, dekadensi moral, konflik antar sesama, krisis ekonomi serta keterjajahan politik, beliau merubahnya dengan menghadirkan masyarakat yang bermoral luhur sehingga munculah Masyarakat Madani (Civil Society) yang dapat menghadapi krisis-krisis masyarakat dan bahkan menghadirkan ummat yang bermartabat, ummat yang bukan menjadi beban lil’alamin melainkan menjadi rahmatan lil’alamin.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Dalam rangka untuk menguatkan komitmen kita serta semangat ummat untuk tidak menyia-nyiakan kehadiran kembali hari raya Idul Fitri, dan agar silaturahim dan halal bi halal kita dapat menguatkan semangat kehidupan dengan keuletan dan keseriusan berkarya, juga Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan atas dasar Islam) Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan atas dasar kebangsaan), serta Ukhuwah Insaniyah (persaudaraan atas dasar kemanusiaan), dan agar seluruh amal ibadah kita baik itu puasa, sholat, zakat, shadaqah, tilawatil Quran, shilaturrahim serta kesalehan sosial lainnya dapat diterima oleh Allah dan menghadirkan keberkahan untuk kehidupan pribadi, berkeluarga, bekerja dan bernegara.

Marilah kita menutup khutbah Idul Fitri dengan bersama-sama bermunajat memohon kepada Allah Dzat yang maha mendengar, Dzat yang menerima taubat dan Dzat yang maha memberi ampunan sekaligus maha kasih dan maha sayang kepada seluruh ummat-Nya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Lainnya >>

Kamis, 07 Januari 2010 10:01:41 WIB ¤ hit: 1328

Hidayat Nurwahid Minta Rehabilitasi Nama Gus Dur

JAKARTA - Di tengah bergulirnya upaya menganugerahkan gelar pahlawan nasional terhadap Gus Dur, wacana rehabilitasi nama presiden ke-4 RI tersebut kembali muncul. Itu terkait dengan dilengserkannya Gus Dur oleh MPR pada Juli 2001 karena tersandung kasus penyelewengan dana nonbujeter Bulog dan sumbangan dari Sultan Brunei.

Selasa, 05 Januari 2010 10:01:26 WIB ¤ hit: 1243

Hidayat: Sekalian Saja Soeharto & Gus Dur Dijadikan Pahlawan Nasional

Jakarta - Mantan Presiden Soeharto dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dinilai pantas untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Bangsa Indonesia tidak perlu terbelenggu sejarah yang suram.

Rabu, 09 Desember 2009 14:12:39 WIB ¤ hit: 1454

Ketua BKSAP Kutuk Keras Bom Bunuh Diri di Irak

Bandung-Ketua BKSAP Hidayat Nurwahid mengutuk keras tindakan bom bunuh diri yang menimbulkan setidaknya 127 orang tewas pada Selasa 8 Desember di Baghdad,Irak. "ini sangat wajar apabila Asian Parliamentary Assembly (APA) dapat mengeluarkan sikap tegas terhadap masalah pengeboman ini,"kata Hidayat seusai acara pernyataan sikap anggota Parlemen Asia menyambut hari anti korupsi sedunia, di Bandung,(9/12).

Rabu, 09 Desember 2009 14:12:23 WIB ¤ hit: 1396

Hidayat Optimis Seluruh Delegasi Akan Setujui Draft Keuangan APA

Bandung-Ketua Sidang APA Hidayat Nur Wahid mengatakan, dirinya merasa yakin berbagai negara Parlemen Asia akan mendukung dan menyokong Keuangan APA sebagai suatu bentuk komitmen bersama membangun organisasi APA.


09 Desember 14:12 ¤ 1396
Hidayat Optimis Seluruh Delegasi Akan Setujui Draft Keuangan APA

Sidang Asian Parliamentary Asembly


Kutipan

“Melakukan fitnah adalah hal yang tidak masuk akal. Tapi yang lebih tidak masuk akal adalah mempercayai fitnah.

— Kamis, 19 Pebruari 2009


Mutiara Hikmah

“Sikap ikhlas beramal, berkurban dan berbagi dengan hati ikhlas yang penuh dengan cinta kasih dapat menghiasi kehidupan kita berbangsa, bernegara dan bahkan berkonstitusi saat ini.”

Khutbah Shalat Iedul Adha di lapangan Masjid Agung Klaten, Senin, 08 Desember 2008